
Situs news indoesia alternatif informasi berita viral terbaru. Jakarta, oovisoap Indonesia
—
Industri perhotelan adalah medan pertemuan berbagai macam karakter manusia. Namun, di balik senyum ramah staf, ternyata ada satu tipe
tamu hotel
yang paling dihindari.
Para staf atau pekerja hotel ternyata membenci “Perundung Check-in” atau
Check-in Bullies
.
Tipe tamu ini adalah individu yang selalu merasa dirinya paling penting (
entitled
), menolak antre, dan kerap melontarkan tuntutan berlebihan kepada staf hotel. Mereka adalah penyebab staf hotel menarik napas panjang saat bertugas.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Para “perundung check-in” ini cenderung melakukan apa pun untuk mencapai keinginan mereka. Jika permintaan
kamar tidak terpenuhi, mereka tidak ragu meninggikan suara dan menyalahkan staf.
“Tahukah Anda sudah berapa malam saya menginap di hotel ini? Hubungi manajer Anda sekarang!”, adalah kalimat andalan yang sering mereka lontarkan untuk menekan pekerja hotel.
Perilaku Buruk yang Kian Meningkat
Perilaku buruk tamu di hotel belakangan menjadi sorotan. Sebuah survei yang dilakukan oleh Hotels.com pada bulan Maret 2025 menunjukkan bahwa kecerobohan para tamu di hotel merupakan masalah yang terus meningkat.
Pelanggaran etika yang paling umum dilakukan oleh tamu, menurut survei tersebut, adalah: (situs news indoesia alternatif informasi berita viral terbaru).
– Bertelanjang kaki di area umum hotel (94 persen).
– Mengenakan jubah mandi hotel di luar area kamar (92 persen).
– Menunjukkan kemesraan di tempat umum dan kolam renang (86 persen).
– Memonopoli kursi kolam renang (60 persen).
Pakar etiket industri travel, Rachel Wagner, mengomentari fenomena ini sebagai sikap kurangnya penghargaan terhadap properti dan kesejahteraan orang lain.
“Itu sikap yang menganggap, ‘Ini bukan milikku, jadi aku tak peduli’,” ucap Wagner, seperti dilansir
USA Today
pada Rabu (29/10).
Sayangnya, perilaku buruk tamu tidak hanya sebatas pada etika di area publik. Penelitian yang dilakukan oleh Grandey dkk. (2007) membuktikan bahwa staf hotel sering menghadapi beragam bentuk intimidasi yang jauh lebih serius.
Bentuk perundungan tersebut meliputi penggunaan kata-kata kotor, cemoohan, teriakan, dan sikap menggurui. Bahkan, pelecehan seksual disebut menjadi tindakan intimidasi yang paling dominan diderita oleh staf hotel, baik resepsionis maupun petugas kamar.
Jenis perundungan lain yang dialami staf mencakup perhatian seksual yang tidak diinginkan, penyebaran gosip dan rumor, komentar yang menghina, dimarahi atau menjadi sasaran kemarahan spontan, perilaku mengintimidasi (seperti menuding atau menyerang ruang pribadi), hingga ancaman kekerasan fisik dan verbal.
Solusi untuk Mengatasi Tamu Sulit
Para pekerja hotel dan pakar perilaku memiliki trik untuk mengatasi situasi yang memanas ini. Thomas Plante, pakar perilaku dari Santa Clara University, menyarankan solusi sederhana: tidak bereaksi berlebihan. “Saya pikir jika masyarakat bertindak dengan hormat, sebagian besar masalah atau potensi masalah dapat diselesaikan,” ujarnya.
Sementara itu, Abbe Depretis dari
Tepper School of Business di Carnegie Mellon University
menyoroti komunikasi sebagai kunci utama meredakan ketegangan. Ia menyayangkan banyak orang yang tidak memiliki teknik manajemen konflik dasar sehingga memperburuk situasi tegang.
(wiw)
[Gambas:Video oovisoap]
Baca lagi: Kaki Pemain PSM Terjepit Besi Drainase Stadion, Pelatih Bingung
Baca lagi: Maslow Quest: Aturan Baru RI Soal Stateless Butuh Implementasi Kuat
Baca lagi: 5 Alasan Orang Gemar Thrifting, Bukan Cuma Harga Miring


